RAJAWALIBORNEO.COM. Kubu Raya, Kalimantan Barat – Di tengah harapan besar terhadap masa depan olahraga daerah, Joko Ariyanto resmi mendaftarkan diri sebagai calon Ketua KONI Kubu Raya dalam Musorkablub, Jumat (03/04/2026). Namun demikian, langkah tersebut tidak hanya dimaknai sebagai proses administratif, melainkan juga sebagai bagian dari dinamika yang lebih luas.

Pendaftaran yang berlangsung di Sekretariat Tim Penjaringan dan Penyaringan, lingkungan Disporapar Kubu Raya, menjadi titik awal dari kontestasi yang kini semakin mendapat perhatian publik.
Didampingi Ilham yang dikenal memiliki rekam jejak organisasi, kehadiran Joko menunjukkan kesiapan menghadapi persaingan. Sementara itu, dukungan dari sejumlah cabor mulai terlihat, meskipun dinamika internal belum sepenuhnya mereda.
Di satu sisi, proses berjalan sesuai tahapan. Namun di sisi lain, muncul berbagai pandangan mengenai independensi dukungan yang masih menjadi perhatian.
BACA JUGA: Joko Ariyanto Berpeluang Aklamasi di Musorkab KONI Kubu Raya
Dalam suasana yang relatif kondusif, Joko menegaskan bahwa pencalonannya didasarkan pada semangat pengabdian. Ia memandang KONI sebagai ruang kolektif yang harus dijaga bersama.
“KONI adalah rumah kita bersama. Tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil,” tegasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kepercayaan sebagai fondasi organisasi.
“Ketika kita saling percaya, maka perubahan akan datang dengan sendirinya,” ujarnya.
Lebih jauh, Joko mengajak seluruh cabor menjadikan Musorkablub sebagai momentum memperkuat solidaritas. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa proses harus dijaga tetap bersih dan terbuka.
“Kami berharap semua tahapan berjalan demokratis dan tanpa tekanan dari pihak manapun,” katanya.
BACA JUGA: Musorkablub Kubu Raya Diselimuti Tekanan, Joko Ariyanto Melawan
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa integritas proses merupakan hal yang tidak dapat ditawar.
Dengan demikian, Musorkablub KONI Kubu Raya kini berada pada fase penting. Tidak hanya menentukan kepemimpinan, forum ini juga menjadi tolok ukur kualitas demokrasi di tubuh organisasi olahraga.
Pada akhirnya, perhatian publik tidak hanya tertuju pada hasil, tetapi juga pada proses yang dijalankan. Jika proses berlangsung jujur dan transparan, maka hasilnya akan memperkuat kepercayaan.
Sebaliknya, jika terjadi penyimpangan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga pada masa depan organisasi.
Sejarah, pada waktunya, akan mencatat, siapa yang menjaga integritas, dan siapa yang mengabaikannya.
PEWARTA: FPK.
EDITOR: REDAKSI.
