RAJAWALIBORNEO.COM. Pontianak , Kalimantan Barat – Kemarau panjang mulai membuka persoalan serius di balik kebutuhan air bersih Kota Pontianak dan sekitarnya. Sumber air baku menyusut, waktu pengisian tangki membengkak, solar subsidi sulit diperoleh, sementara distribusi tersendat oleh kepadatan akses jalan. Minggu, (30/08/2026).
Di tengah situasi itu, kebutuhan masyarakat justru meningkat. Air Perumda Air Minum yang di sejumlah wilayah mulai terasa asin membuat sebagian warga beralih ke air pegunungan.
Ironisnya, ketika kebutuhan melonjak, pasokan air baku yang menjadi tumpuan justru semakin terbatas. Kondisi tersebut menempatkan supplier dan armada pengangkut pada posisi sulit: permintaan harus dilayani, tetapi sumber air dan operasional kendaraan tidak berada dalam kondisi normal.
Laporan Koperasi Jasa Angkutan Air Baku (KJAAB) menunjukkan persoalan tidak berhenti pada berkurangnya sumber air.
BACA JUGA: Imigrasi Pontianak Gagalkan 124 Calon PMI Non-Prosedural
Sejumlah titik yang masih memiliki air mengalami penurunan debit cukup tajam. Akibatnya, pengisian satu unit tangki yang sebelumnya dapat dilakukan lebih cepat kini bisa memakan waktu hingga sekitar tiga jam.
Waktu tunggu tersebut bukan sekadar persoalan teknis. Setiap jam yang terbuang berarti berkurangnya perjalanan armada dan menyusutnya volume air yang dapat sampai kepada masyarakat.
Persoalan kemudian merembet ke depot air minum isi ulang dan rumah tangga. Bahkan, kebutuhan fasilitas pelayanan kesehatan ikut terdampak.
Dalam beberapa waktu terakhir, terdapat rumah sakit yang membutuhkan pasokan air bersih dalam kondisi mendesak. Namun, supplier belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara maksimal karena keterbatasan sumber air dan armada.
BACA JUGA: Truk CPO PT MBK Terguling, Jalan Trans Kalimantan Licin
Situasi itu patut menjadi alarm bagi pemerintah. Sebab, air bersih bukan komoditas yang bisa ditunda kebutuhannya, terlebih ketika menyangkut pelayanan kesehatan.
Masalah berikutnya berada pada sektor operasional. KJAAB menyebut ketersediaan solar subsidi masih minim. Padahal, armada pengangkut air menjadi salah satu mata rantai penting dalam menjaga pasokan masyarakat.
Tanpa bahan bakar yang memadai, kendaraan tidak dapat bergerak optimal. Sementara itu, permintaan tidak mengenal jeda.
Seorang supplier mengungkapkan kondisi tersebut membuat pihaknya harus menghadapi pilihan sulit.
“Sekarang masalahnya bukan hanya permintaan masyarakat yang meningkat. Sumber air banyak yang debitnya turun. Ada yang masih bisa digunakan, tetapi untuk mengisi satu tangki saja bisa sampai sekitar tiga jam,” ujarnya.
Ia menegaskan supplier bukan tidak mau melayani permintaan. Persoalannya, kapasitas distribusi saat ini memang terbatas.
“Kami sebenarnya ingin melayani semua permintaan masyarakat. Tetapi kemampuan kami juga terbatas. Kalau solar sulit dan perjalanan terhambat karena akses jalan, tentu jumlah pengiriman dalam sehari ikut berkurang,” katanya.
BACA JUGA: Air PDAM Kubu Raya Bermasalah, Warga Ampera Raya Protes
Persoalan tidak berhenti pada sumber air dan bahan bakar. Jalur distribusi menuju Pontianak dan Kubu Raya juga menghadapi hambatan.
Kawasan Tol Kapuas 2, misalnya, disebut menjadi salah satu titik dengan kepadatan lalu lintas yang dapat memperlambat perjalanan armada.
Dalam keadaan biasa, keterlambatan mungkin masih dapat ditoleransi. Namun, ketika waktu pengisian tangki sudah mencapai tiga jam, setiap tambahan hambatan perjalanan berpotensi semakin memperlebar kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan.
Dengan demikian, masalah air bersih tidak lagi berdiri sebagai persoalan supplier semata. Ada rangkaian persoalan yang saling berkaitan, mulai dari kondisi sumber air, bahan bakar hingga akses distribusi.
Persoalan semakin pelik karena masyarakat menghadapi kondisi air Perumda Air Minum yang di sejumlah wilayah mulai terasa asin.
Akibatnya, air pegunungan menjadi alternatif. Permintaan pun meningkat. Namun, pada saat yang sama, supplier menghadapi keterbatasan pasokan. Di sinilah potensi persoalan menjadi lebih besar.
Jika permintaan terus naik sementara kemampuan distribusi terus menurun, tekanan terhadap masyarakat tidak bisa dianggap sebagai persoalan sesaat.
Ketua KJAAB Heri Sujiandi mengatakan pihaknya sengaja menyampaikan kondisi tersebut agar pemerintah mengetahui persoalan yang terjadi di lapangan.
“Kami bukan ingin mengeluh, tetapi ingin menyampaikan kondisi nyata yang terjadi di lapangan. Kami ingin tetap membantu masyarakat mendapatkan air bersih, tetapi ada beberapa kendala yang berada di luar kemampuan kami,” kata Heri.
Menurutnya, persoalan sumber air, solar dan akses distribusi membutuhkan penanganan bersama.
Karena itu, KJAAB meminta Pemerintah Kota Pontianak dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret. Dukungan terhadap bahan bakar serta kelancaran jalur distribusi dinilai penting untuk mencegah gangguan pasokan semakin parah.
Kondisi ini seharusnya tidak menunggu sampai masyarakat benar-benar kesulitan memperoleh air untuk kemudian ditangani.
KJAAB mengingatkan bahwa keterlambatan distribusi saat ini bukan semata-mata akibat lemahnya pelayanan supplier. Sebaliknya, terdapat persoalan berlapis yang terjadi secara bersamaan.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan panic buying. Pembelian berlebihan justru dapat mempercepat kekosongan pasokan dan memperbesar kepanikan.
Pembelian sesuai kebutuhan menjadi langkah yang lebih bijak. Dengan cara itu, distribusi dapat dibagi secara lebih merata sembari pemerintah dan pihak terkait mencari jalan keluar.
Kemarau panjang akhirnya memperlihatkan satu persoalan yang tidak bisa ditutup-tutupi: kebutuhan air bersih meningkat ketika sumber air baku justru semakin tertekan.
Jika kondisi tersebut berlangsung lama tanpa intervensi yang jelas, dampaknya bukan hanya dirasakan rumah tangga. Dunia usaha, depot air minum, hingga fasilitas pelayanan publik seperti rumah sakit dapat ikut terkena imbas.
“Kami berharap pemerintah dan seluruh pihak dapat bersama-sama mencari solusi. Kami dari supplier dan pengangkut air siap membantu masyarakat, tetapi kami juga membutuhkan dukungan agar distribusi air tetap berjalan,” ujar Heri.
KJAAB berharap persoalan tersebut segera ditangani melalui koordinasi lintas instansi. Sebab, ketika sumber air terus menyusut, solar sulit, dan distribusi tersendat, ancaman krisis air bersih bukan lagi sekadar kekhawatiran di atas kertas.
Kini pertanyaannya bukan apakah Pontianak membutuhkan air bersih, melainkan seberapa cepat pemerintah memastikan pasokannya tetap tersedia ketika kemarau belum menunjukkan tanda berakhir.
PEWARTA: 1NDRA.
EDITOR: REDAKSI.
